Kontroversi Keterlibatan Romo Mudji Sutrisno dalam TP2GP 2025 yang Menyetujui Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Senin, 29 Desember 2025


RENCANA penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2025 memicu diskusi hangat seiring dengan masuknya nama Presiden ke-2 RI, Soeharto, dalam daftar usulan. Proses pengkajian ini melibatkan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang beranggotakan berbagai pakar, termasuk Prof. Dr. F.X. Mudji Sutrisno SJ (Romo Mudji)

Kehadiran Romo Mudji dalam tim ini menarik perhatian publik, mengingat rekam jejaknya sebagai intelektual dan budayawan yang dikenal sangat vokal mendukung gerakan Reformasi 1998 serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Keterlibatannya dalam tim yang memproses usulan ini dipandang bukan sebagai bentuk "kompromi" politik, melainkan sebagai upaya untuk memastikan bahwa kajian dilakukan secara objektif, mendalam, dan mempertimbangkan aspek etika budaya yang luas. 

Sebagai sosok yang memahami luka sejarah sekaligus pentingnya rekonsiliasi bangsa, mungkin posisi Romo Mudji dalam TP2GP berfungsi untuk memberikan perspektif kritis agar keputusan yang diambil tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mempertimbangkan keadilan historis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa peluang Soeharto kini kian terbuka setelah namanya dicabut dari Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Secara normatif, Soeharto dinilai memenuhi syarat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 berkat prestasi pembangunan yang pernah dicapainya. 

Namun, bagi tokoh seperti Romo Mudji dan para penggerak reformasi lainnya, proses ini tentu menjadi ujian berat dalam menyeimbangkan antara penghargaan terhadap jasa pembangunan dengan pertanggungjawaban atas catatan kelam Orde Baru. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa hasil sidang TP2GP yang melibatkan para akademisi ini akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi Presiden Prabowo Subianto sebelum mengambil keputusan final menjelang 10 November 2025.

Di sisi lain, arus penolakan tetap mengalir deras dari PDIP dan para aktivis hukum. Guntur Romli dari PDIP secara tegas menyebut pemberian gelar ini sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat yang menggulingkan rezim otoriter pada 1998. Pakar hukum Bivitri Susanti juga mengingatkan bahwa mengabaikan trauma kolektif masyarakat dan persoalan hukum yang belum tuntas—seperti kasus KKN dan pelanggaran HAM—dapat menihilkan makna sejati dari gelar "Pahlawan Nasional". 

Kontroversi ini menempatkan tim pengkaji, termasuk Romo Mudji, dalam dilema besar antara memilih kacamata rekonsiliasi atau menjaga integritas nilai-nilai Reformasi yang belum tuntas. Sebagai sosok yang menjunjung tinggi dialog, keterlibatan beliau kemungkinan besar merupakan upaya untuk mendudukkan sejarah secara objektif dan berkeadilan. 

Sayangnya, belum banyak terungkap ke publik mengenai argumen pribadi atau pergulatan batin beliau terkait proses ini, dan kini sang budayawan telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan teka-teki intelektual sekaligus warisan bagi bangsa untuk melanjutkan tugas berat dalam membedah sejarah Indonesia dengan kebijaksanaan dan kejernihan hati.



Continue Reading | komentar

Romo Mudji Sutrisno, SJ: Sang Begawan Filsafat, Pencari Kebenaran di Tengah "Silat Lidah" Zaman

INDONESIA kehilangan salah satu lentera intelektual dan spiritual terbaiknya. Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, begawan filsafat yang juga dikenal sebagai imam Jesuit, budayawan, dan seniman, berpulang ke hadirat Sang Pencipta pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta. Kepergian sosok kelahiran Surakarta, 12 Agustus 1954 ini meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademisi, pegiat kebudayaan, dan siapa pun yang merindukan refleksi jernih di tengah karut-marutnya persoalan bangsa.

Intelektualitas yang Berakar pada Kebenaran

Bagi Romo Mudji, filsafat bukanlah sekadar ornamen akademis atau kemahiran "bersilat lidah". Menanggapi fenomena munculnya kaum "sofis modern" yang lihai beragitasi namun mengabaikan kebenaran, Romo Mudji selalu menekankan bahwa filsafat adalah cinta pada kebenaran yang mewujud dalam korespondensi antara kata dan perbuatan.

Ia sering mengkritik "pembusukan" filsafat di Indonesia, di mana pemikiran sering kali dimanipulasi menjadi ideologi demi kepentingan kekuasaan. Baginya, filsafat sejati harus mampu menguak kedok kepentingan pribadi dan kembali pada fungsinya untuk mewartakan bonum commune atau kesejahteraan bersama. Melalui "teori kritik", ia mendidik mahasiswanya dan masyarakat luas untuk cerdas membaca manipulasi yang membodohi rakyat atas nama kebenaran palsu.

Dedikasi Tanpa Henti: Dari KPU Kembali ke Kampus

Kiprah Romo Mudji dalam dunia tulis-menulis dimulai sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ia secara rutin melahirkan karya-karya monumental yang menjembatani filsafat, estetika, dan kritik sosial. Pendidikan doktornya di Universitas Gregoriana, Italia, tidak membuatnya menjadi intelektual menara gading. Ia adalah sosok yang piawai menyederhanakan analogi rumit mengenai persoalan bangsa agar mudah dicerna oleh masyarakat awam.

Integritasnya teruji ketika ia menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2007. Di tengah posisi yang banyak diincar orang, Romo Mudji memilih untuk melepaskan jabatan tersebut demi kembali ke dunia pendidikan dan kegiatan sosial. Ia merasa "panggilan sejatinya" adalah mengajar, menulis, dan berdialog langsung dengan mahasiswa serta masyarakat mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Warisan Pemikiran dalam Kata dan Rupa

Sepanjang hidupnya, Romo Mudji Sutrisno, SJ telah meninggalkan warisan pemikiran yang sangat kaya melalui puluhan buku yang menjadi rujukan penting di Indonesia, baik dalam bentuk kata maupun rupa. Dalam bidang filsafat dan estetika, ia melahirkan karya-karya kunci seperti Estetika: Filsafat dan Keindahan (1993), Teks-teks Kunci Estetika (2005), serta Ranah-Ranah Estetika (2011). Kepeduliannya yang mendalam terhadap nasib bangsa juga tertuang dalam buku-buku bertema kebudayaan seperti Driyarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia (2006), Krisis Peradaban (2013), dan Esai-Esai Untuk Negeri (2015). Tidak hanya itu, sisi spiritualitas dan sastranya terpancar kuat lewat karya seperti Zen dan Fransiskus (1983), Ziarah Anggur (2004), hingga Sunyi Yang Berbisik (2020). Sebagai dosen filsafat dan sosiologi, interaksinya yang hangat menjadikannya figur bapak bagi para mahasiswa, di mana ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan teladan nyata bagaimana iman Katolik dan spirit Jesuit dapat berdialog secara terbuka dengan budaya Nusantara serta nilai-nilai pluralisme.

Selamat Jalan, Sang Guru

Romo Mudji telah menyelesaikan tugasnya sebagai "penjaga gerbang nalar" di Indonesia. Ia meninggalkan kita dengan sebuah pesan abadi bahwa kebenaran harus terus diwartakan sebagai kabar baik tentang kehidupan, bukan sebagai alat kekuasaan. Kini, sang imam yang juga penyair dan pelukis ini telah beristirahat dalam damai, meninggalkan jejak langkah peradaban yang akan terus kita baca dalam barisan buku dan sketsanya.

Requiescat in Pace, Romo Mudji Sutrisno, SJ (1954 - 2025).

Continue Reading | komentar

Ziarah Garis dan Warna: Mengenang Romo Mudji Sutrisno SJ melalui Karya Sketsanya

Minggu, 28 Desember 2025

KEPERGIAN Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ pada 28 Desember 2025 meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang mendalam, tidak hanya melalui pemikiran filsafatnya, tetapi juga melalui goresan tangannya. Bagi Romo Mudji, seni bukanlah sekadar estetika visual, melainkan sebuah "buku harian spiritual" dan bentuk ziarah batin untuk menjumpai Sang Pencipta.

"Dari Gereja ke Gereja": Jejak Yubileum 2025

Hanya beberapa bulan sebelum kepulangannya, tepatnya pada 16 hingga 25 September 2025, Romo Mudji sempat menyelenggarakan pameran tunggal bertajuk “Dari Gereja ke Gereja” di Balai Budaya, Jakarta. Pameran ini menampilkan 55 karya sketsa hitam-putih berukuran folio yang ia buat selama mengunjungi berbagai gereja di Jakarta dalam rangka Tahun Yubileum 2025.

Melalui garis-garis yang tegas namun lembut, Romo Mudji mengajak pengunjung untuk masuk ke dalam suasana doa yang senyap dan kontemplatif. Baginya, sketsa-sketsa tersebut adalah upaya menangkap esensi Perjamuan Misa dan falsafah estetika asli Indonesia. "Gereja adalah rumah doa, tempat bersyukur atas anugerah kehidupan," ungkapnya kala itu. Pameran ini menjadi salah satu persembahan terakhirnya yang menegaskan semangat Amrih Mulya Asma Dalem Gusti (Demi Lebih Besarnya Kemuliaan Nama Tuhan).


Dari Stupa ke Kapel: Simbol Toleransi dan Rahim Kehidupan

Perjalanan artistik Romo Mudji selalu sarat dengan pesan persaudaraan. Dalam pameran terdahulunya, “Dari Stupa ke Stupa”, ia menunjukkan perkembangan gaya dari garis hitam-putih menuju penggunaan warna yang ekspresif. Inspirasi ini ia dapatkan setelah menyaksikan ritual tabur tepung warna-warni di Kathmandu, Nepal, yang ia maknai sebagai simbol syukur atas kehidupan: merah untuk semangat, hijau untuk merawat hidup, dan kuning untuk kejayaan.

Yang paling menyentuh dari pameran tersebut adalah keberaniannya menjajarkan stupa, kapel gereja, dan kubah masjid dalam satu kanvas. Romo Mudji menjelaskan bahwa secara etimologis, ketiganya memiliki arti yang sama, yakni "rahim" atau garba ibu. Melalui seni, ia menyampaikan pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan seharusnya menyatu dalam kedamaian, sebagaimana arsitektur suci yang saling menjalin dalam lintasan sejarah manusia.

Seni sebagai Pengasahan Bakat dan Syukur

Sebagai seorang Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara, Romo Mudji tetap membumi melalui sketsanya. Ia percaya bahwa mengasah bakat seni adalah jalan untuk bersyukur kepada Tuhan. Dalam karya-karyanya yang paling abstrak dan sublim, ia sering menyisakan banyak ruang kosong untuk membiarkan "kesunyian berbicara."

Bagi Romo Mudji, di hadapan Tuhan, manusia adalah nobody. Segala atribut duniawi dilepaskan, dan hanya melalui rahmat-Nya manusia menjadi bermakna. Kini, sang "Pemikir yang Seniman" telah menyelesaikan ziarah batinnya di dunia. Karya-karyanya akan terus menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menemukan keheningan di tengah kebisingan dunia dan melihat kehadiran Ilahi dalam setiap sudut ruang suci.

Continue Reading | komentar

KABAR DUKA: Romo Mudji Sutrisno SJ, Budayawan dan Tokoh Filsafat, Berpulang ke Rumah Bapa

JAKARTA – Dunia filsafat, seni, dan budaya Indonesia berduka. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, atau yang akrab disapa Romo Mudji, meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Desember 2025. Tokoh bangsa yang dikenal atas kesederhanaan dan kedalaman pemikirannya ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta, dalam usia 71 tahun karena sakit.

Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh rekan sejawatnya di Serikat Jesus, Rm. Setyo Wibowo SJ. Romo Mudji dikenal luas bukan hanya sebagai rohaniwan, tetapi juga sebagai Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara dan Universitas Indonesia.

Dunia intelektual dan religius Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mudji, dikabarkan meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta. Romo Mudji wafat dalam usia 71 tahun setelah sebelumnya menjalani perawatan karena sakit. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh rekan sejawatnya, Rm. Setyo Wibowo SJ, yang mengajak segenap umat dan kolega untuk mendoakan almarhum agar beristirahat dalam damai Tuhan.

Sosok kelahiran Solo, 12 Agustus 1954 ini merupakan figur yang sangat dihormati sebagai rohaniwan, ahli filsafat, sekaligus pengamat sosial-budaya. Sebagai seorang akademisi, ia mengabdikan diri menjadi Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan mengajar di Universitas Indonesia. Jejak kariernya juga sempat menyentuh ranah politik nasional ketika ia menjabat sebagai Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2003, meski akhirnya ia memilih kembali ke dunia pendidikan. Meraih gelar doktor dari Universitas Gregoriana, Italia, Romo Mudji dikenal lewat tulisan-tulisannya yang tajam namun menyejukkan mengenai persoalan bangsa.

Romo Mudji juga dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja dan dekat dengan seni. Di balik gelar akademisnya yang tinggi, ia tidak pernah lupa pada akarnya, bahkan sering mengenang pengalamannya mengajar menggambar bagi anak-anak TK dan SD. Kesederhanaan hidupnya sangat membekas bagi mereka yang mengenalnya, baik saat beliau menjalankan misi di luar negeri seperti di Rusia, maupun dalam kesehariannya di lingkungan kampus. Bagi banyak orang, ia bukan sekadar pemikir, melainkan seorang "pemikir yang seniman" yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat dengan kerendahan hati.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jenazah akan disemayamkan di Kolese Kanisius (CC), Jakarta Pusat. Misa Requiem dijadwalkan berlangsung pada hari Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2025, setiap pukul 19.00 WIB di Kapel Kolese Kanisius. Selanjutnya, jenazah akan diberangkatkan menuju Girisonta pada Selasa malam pukul 21.00 WIB. Rangkaian prosesi akan ditutup dengan Misa Ekaristi pada Rabu, 31 Desember 2025, pukul 10.00 WIB di Gereja Paroki setempat, sebelum akhirnya dimakamkan di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta.

Continue Reading | komentar

Misa Natal Pertama Paus Leo XIV: Seruan Damai dari Vatikan untuk Warga Gaza

Sabtu, 27 Desember 2025


DALAM Misa Natal perdana yang dipimpinnya di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Kamis, 25 Desember 2025, Paus Leo XIV menyampaikan pesan perdamaian yang sangat mendalam dan berfokus pada isu kemanusiaan global. Di hadapan ribuan umat yang datang dari berbagai penjuru dunia, beliau menggunakan momen sakral peringatan kelahiran Yesus Kristus untuk mengingatkan kembali akan kerapuhan martabat manusia yang saat ini tercermin dalam nasib para pengungsi di seluruh dunia. Secara khusus, Paus menyoroti tragedi yang menimpa warga Gaza yang kini terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat di bawah ancaman cuaca ekstrem, terpapar hujan dan udara dingin yang menusuk akibat konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.

Dalam khotbahnya yang penuh haru, pemimpin umat Katolik dunia ini menegaskan bahwa kelahiran Yesus adalah simbol solidaritas Allah bagi mereka yang menderita akibat kekerasan dan penindasan. Beliau mengajak seluruh umat untuk tidak bersikap apatis atau menutup mata terhadap penderitaan sesama yang seringkali menjadi korban dari ambisi serta egoisme politik para pemimpin negara. Menurut Paus, perdamaian sejati mustahil tercapai selama negara-negara yang bertikai masih terjebak dalam ego sektoral mereka masing-masing. Ia menekankan pentingnya mengakhiri praktik "monolog" dan mulai beralih pada dialog yang tulus serta kemampuan untuk saling mendengarkan demi menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal.

Seruan ini menjadi sebuah penanda kuat akan komitmen kepemimpinan baru Paus Leo XIV dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan di panggung global. Beliau mendesak para pembuat kebijakan internasional untuk segera mengambil langkah nyata dan konstruktif guna menyelesaikan krisis tersebut melalui jalur diplomasi. Dengan mengedepankan pesan damai dari pusat Takhta Suci, Paus berharap agar nurani para pemimpin dunia dapat terketuk untuk lebih memprioritaskan keselamatan nyawa manusia di atas kepentingan kekuasaan, sehingga penderitaan warga di wilayah konflik seperti Gaza dapat segera diakhiri.
Continue Reading | komentar

Pria Jogja suka jalan-jalan Mendamba Wanita Sabar dan Menerima Apa Adanya

Continue Reading | komentar

Misa Natal 2025 di Wisma Sahabat Yesus Depok Dibatalkan, Ini Kronologi dan Penyebabnya

Jumat, 26 Desember 2025

DEPOKPelaksanaan ibadah Misa Natal 2025 di Wisma Sahabat Yesus (SY), Jalan Margonda Raya, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok, secara resmi dibatalkan. Pembatalan ini sempat menghebohkan publik setelah informasi tersebut viral di media sosial.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada hari Natal, Kamis (25/12/2025), suasana Wisma SY tampak sepi tanpa aktivitas ibadah. Meskipun dihiasi pohon Natal dan jajaran bangku yang rapi, sebuah papan pengumuman menegaskan bahwa tidak ada kegiatan Misa di lokasi tersebut, baik untuk hari Natal maupun jadwal Sabtu dan Minggu berikutnya.

Kronologi dan Alasan Pembatalan

Pembatalan ini merupakan hasil kesepakatan bersama setelah adanya proses mediasi. Kejadian bermula pada Selasa (23/12/2025), ketika sejumlah orang mendatangi wisma dan menyatakan ketidakselarasan terhadap pelaksanaan Misa di lokasi tersebut.

Pendamping Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Wisma SY, Ramando, menjelaskan bahwa pihak Romo Moderator akhirnya memutuskan untuk membatalkan Misa demi menghormati kesepakatan dan aturan yang berlaku. Romo memilih untuk tidak menggelar ibadah terbuka di wisma tersebut hingga adanya izin resmi yang dikantongi.

Kendala Perizinan Bangunan

Terkait polemik ini, Pemerintah Kota Depok melalui Wali Kota Supian Suri memberikan klarifikasi. Diketahui bahwa status perizinan bangunan Wisma Sahabat Yesus adalah sebagai hunian atau asrama mahasiswa, bukan sebagai rumah ibadah umum. Hal inilah yang menjadi kendala utama pelaksanaan ibadah berskala besar di lokasi tersebut.

Wali Kota Supian Suri menegaskan bahwa pembatalan ini semata-mata merupakan persoalan administratif dan aturan hukum, bukan masalah intoleransi.

"Kemarin sudah ada musyawarah antara warga dengan pihak wisma dan mencapai kesepakatan. Pihak wisma sendiri yang akhirnya membatalkan setelah bermusyawarah dengan lingkungan," ujar Supian Suri, Selasa (24/12/2025).

Imbauan Pemerintah

Pemerintah Kota Depok memastikan akan terus menjaga kerukunan antarumat beragama dan memastikan keamanan bagi seluruh warga yang merayakan hari besar keagamaan. Sebagai solusi, Pemkot Depok mengimbau para mahasiswa penghuni Wisma SY untuk melaksanakan ibadah di gereja-gereja terdekat yang telah memiliki izin resmi sebagai tempat ibadah.

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Unit Selatan juga telah memberikan informasi mengenai pembatalan ini kepada umat, dengan menyebutkan adanya kendala kebijakan dan perizinan sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut.

Continue Reading | komentar

Wujud Kasih Natal, Komunitas Jomblo Katolik (KJK) Indonesia Salurkan Donasi Rp14 Juta untuk Korban Bencana di Sumatera

MEDANMenjelang perayaan Natal, semangat berbagi dan kepedulian ditunjukkan oleh komunitas kaum muda yang tergabung dalam Komunitas Jomblo Katolik (KJK) Indonesia. Sebagai bentuk aksi nyata kasih terhadap sesama, komunitas ini berhasil mengumpulkan dan menyalurkan donasi sebesar Rp14.000.000 untuk membantu para korban bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatera.

Penyaluran dana bantuan ini dilakukan melalui rekening resmi Keuskupan Agung Medan (KAM) pada Selasa (24/12/2024). Donasi tersebut merupakan kumpulan rasa kepedulian dari para anggota komunitas yang tersebar di berbagai wilayah, yang tergerak untuk meringankan beban saudara-saudari yang terdampak bencana.

Perwakilan KJK Indonesia, Mega RDS, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada seluruh anggota yang telah berpartisipasi. Ia berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi proses pemulihan di wilayah terdampak.

"Dengan ini kami sampaikan bahwa donasi dari teman-teman semua untuk bencana di Sumatera telah kami salurkan melalui rekening Keuskupan Agung Medan. Terima kasih banyak atas kepeduliannya," ungkap Mega dalam keterangan tertulisnya.

Selain bantuan materi, komunitas ini juga mengajak umat untuk terus mendoakan keselamatan para korban. "Berkat Tuhan menyertai semua saudara kita di sana. Semoga keadaan semakin baik, bencana cepat teratasi, dan segala aktivitas masyarakat bisa kembali normal," tambahnya.

Aksi ini sekaligus menjadi kado Natal yang indah dari KJK Indonesia, membuktikan bahwa semangat persaudaraan dan rasa kasih melampaui sekat-sekat komunitas. Melalui gerakan ini, KJK Indonesia berharap dapat menyebarkan secercah harapan dan kegembiraan bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan di masa menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.


Continue Reading | komentar

Yuk, gabung di GWA KJK (Kontak Jodoh Katolik)!


Lagi cari teman ngobrol atau sahabat yang sehobi dan seiman? Yuk, gabung di GWA KJK (Kontak Jodoh Katolik)! Grup ini adalah tempat yang seru buat kamu yang ingin memperluas pergaulan antarumat Katolik tanpa perlu merasa canggung. 

Di sini, kamu bisa menambah kontak, berbagi cerita, atau bahkan menemukan seseorang yang spesial untuk masa depanmu. Caranya gampang banget, kamu hanya perlu meluangkan sedikit waktu untuk mengisi G-Form di link berikut: https://forms.gle/xKSBNxzzQkC3SqAj7

Atau bisa pantau info KJK di GWA Link: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6yJZ57tkj9akqf5B3R

Tunggu apa lagi? Segera bergabung dan temukan lingkaran pertemanan baru yang penuh berkat dan kegembiraan di dalam komunitas kita!
Continue Reading | komentar

Memahami Tiga Rumusan Misa Natal


Natal memiliki keunikan tersendiri dalam liturgi Gereja Katolik. Berbeda dengan hari Minggu biasa yang hanya memiliki satu rumusan, Natal menyediakan tiga rumusan misa yang berbeda. Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai makna, aturan, dan kewajiban umat terkait perayaan ini.

Berbeda dengan hari Minggu biasa yang hanya memiliki satu rumusan liturgi, Gereja Katolik menyediakan tiga rumusan Misa Natal—Misa Malam, Misa Fajar, dan Misa Siang—sebagai tradisi Romawi sejak abad ke-VI. Pembagian ini bertujuan untuk mengungkap kekayaan Misteri Inkarnasi yang begitu dalam dari berbagai sudut pandang. Misa Malam Natal berfokus pada sisi historis kelahiran Yesus secara nyata di Betlehem, sementara Misa Fajar atau Misa Para Gembala menekankan pada kesaksian para gembala yang membuktikan bahwa kemanusiaan Yesus adalah sejati. Pada Misa Siang, fokus beralih ke sisi teologis mengenai Sang Sabda yang menjadi manusia agar kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

Meskipun setiap rumusan dirancang untuk waktu yang spesifik, penggunaan rumusan Misa Fajar pada siang hari tetap diperbolehkan, terutama untuk kepentingan pastoral seperti Misa Natal anak-anak yang membutuhkan narasi Injil yang lebih mudah dipahami. Selain itu, liturgi Natal sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari Misteri Paskah; kelahiran Kristus adalah langkah awal menuju pengurbanan diri-Nya di kayu salib demi menebus dosa manusia. Dengan demikian, Natal merupakan titik awal kehidupan Gereja dan kelahiran baru bagi seluruh umat Kristiani sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus.

Terkait kewajiban hukum Gereja, umat yang telah mengikuti Misa Malam Natal dianggap telah memenuhi kewajiban merayakan hari raya, sehingga tidak diwajibkan lagi hadir pada Misa tanggal 25 Desember. Namun, mengingat besarnya makna spiritual dalam peristiwa ini, umat sangat dianjurkan untuk tetap hadir pada misa pagi atau siang jika memungkinkan. Hal inilah yang membuat perayaan Natal sering kali terasa sangat meriah, karena umat diajak untuk terus menyelami misteri kasih Allah yang menjelma menjadi manusia dalam berbagai rangkaian perayaan Ekaristi.


Continue Reading | komentar

Mengubah Kekecewaan Menjadi Kekuatan untuk Bangkit

Hampir setiap orang pernah mencicipi rasa kecewa, baik dalam hal asmara, karier, maupun urusan keluarga. Bagi sebagian orang, luka ini bisa terasa sangat dalam hingga meninggalkan "parut emosional" yang memadamkan semangat hidup.

Psikolog Maxwell Maltz menjelaskan bahwa luka batin ini bisa menjadi lingkaran setan emosi negatif jika tidak segera ditangani. Namun, ia menegaskan: "Dengan tekad yang kuat, segala jenis luka emosional bisa disembuhkan."

Seringkali kita merasa hancur saat usaha keras kita berakhir dengan kegagalan. Namun, Maltz mengingatkan agar kita tidak membiarkan kekesalan menguasai pikiran secara permanen. Hidup masih menawarkan banyak keindahan bagi mereka yang mau menjaga gairah hidupnya.

Bayangkan hidup seperti pertandingan bola. Terjatuh atau dijegal lawan adalah hal biasa. Jangan biarkan luka kecil (lecet) akibat jatuh tersebut membekas selamanya. Pemain yang hebat adalah mereka yang segera bangkit setelah dijatuhkan dan kembali mengejar bola dengan tangkas. Mari kita jadikan kegagalan masa lalu sebagai batu loncatan menuju kesuksesan di masa depan.


Continue Reading | komentar

Tips Meningkatkan Semangat Kerja Usai Liburan

Minggu, 15 Oktober 2023

Sumber foto: Suara.com

Di hari Minggu begini, kadang semangat kita untuk bekerja bisa menurun. Untuk meningkatkannya kadang susah juga. Dalam tulisan ini, Admin mengajak kalian untuk meningkatkan semangat bekerja karena semangat adalah kunci untuk menjadi lebih produktif, merasa lebih bersemangat, dan menghasilkan hasil kerja yang lebih baik. Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan semangat bekerja:

Tetapkan Tujuan dan Visi yang Jelas: Ketika Anda memiliki tujuan yang jelas dan melihat bagaimana pekerjaan Anda berkontribusi terhadap visi yang lebih besar, Anda akan merasa lebih termotivasi. Ingatkan diri Anda tentang "mengapa" Anda melakukan pekerjaan ini.

Buat Daftar Tugas dan Rencana Kerja: Membuat daftar tugas harian atau mingguan membantu Anda tetap terorganisir dan merasa pencapaian ketika Anda menyelesaikan tugas-tugas tersebut.

Atur Prioritas: Fokus pada tugas yang paling penting dan mendesak terlebih dahulu. Ini membantu menghindari perasaan terlalu dibanjiri dan membuat Anda merasa lebih produktif.

Istirahat dan Manajemen Waktu yang Baik: Jangan lupakan istirahat yang cukup. Istirahat singkat selama hari kerja dapat membantu menjaga energi dan semangat Anda. Manajemen waktu yang baik juga membantu Anda menghindari perasaan terburu-buru.

Cari Tantangan: Mencari tugas-tugas yang menantang tetapi dapat dikuasai adalah cara yang baik untuk tetap termotivasi. Ketika Anda berhasil menyelesaikan tugas yang sulit, Anda akan merasa puas.

Bekerja dalam Tim: Berkolaborasi dengan rekan kerja atau tim dapat meningkatkan semangat Anda. Berbagi ide, saling mendukung, dan merayakan pencapaian bersama dapat membuat pekerjaan lebih berarti.

Bersyukur dan Bersyukur: Luangkan waktu untuk bersyukur atas pekerjaan Anda dan rasa syukur Anda. Menghargai pekerjaan Anda dapat membantu Anda mengubah perspektif Anda dan meningkatkan semangat.

Kembangkan Keterampilan: Selalu ada kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam pekerjaan Anda. Meningkatkan keterampilan Anda dapat membuat pekerjaan lebih menarik dan memuaskan.

Jaga Keseimbangan Kehidupan Kerja-Pribadi: Penting untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi Anda. Hindari bekerja terlalu berlebihan dan alokasikan waktu untuk kegiatan yang Anda nikmati di luar pekerjaan.

Mengatur Reward Sendiri: Berikan diri Anda hadiah atau pengakuan atas pencapaian tertentu. Ini bisa memberikan motivasi tambahan untuk melakukan pekerjaan dengan semangat.

Berbicara dengan Atasan atau Rekan Kerja: Terkadang, berbicara dengan atasan atau rekan kerja tentang perasaan Anda dan ide-ide untuk meningkatkan semangat kerja bisa membantu Anda menemukan solusi yang sesuai.

Cari Inspirasi: Bacalah buku, ikuti kursus, atau cari sumber inspirasi yang dapat memotivasi Anda dalam pekerjaan Anda.

Setiap orang berbeda, jadi yang penting adalah menemukan strategi yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jangan ragu untuk mencoba berbagai pendekatan dan menyesuaikannya dengan situasi Anda untuk meningkatkan semangat dan produktivitas Anda di tempat kerja.

Admin.

Continue Reading | komentar

Renungan Minggu Biasa XXVIII, 15/10/2023: "Perjamuan Sudah Siap"

Sumber: https://gentole.files.wordpress.com/

Minggu Biasa XXVIII, 15/10/2023 : Yes 25:6-10a; Mzm: 23; Flp 4:12-14.19-20; Mat 22:1-14 

Perjamuan serba mewah di gunung Sion merupakan gambaran ideal tentang suasana keselamatan paripurna yang disiapkan Allah bagi umat manusia. “Tuhan semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa suatu perjamuan yang mewah, suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.” (Yes 25:6).

Umat beriman akan mengalami kesejahteraan dan kemewahan hidup, dengan luapan kegembiraan dan sukacita yang mendalam, damai-sejahtera dan kehidupan yang berkelimpahan. Umat Allah senantiasa diundang untuk mengalami kesejahteraan hidup yang berasal dari kebaikan dan kemurahan hati Allah yang penuh cinta dan maha lapang. Ia rela berbagi kasih dan kebaikan dengan mengundang banyak orang dari segala bangsa untuk bertandang: “Datanglah ke perjamuan kawin ini.” (Mat 22:4c).

Sion atau Yerusalem merupakan wakil umat Allah dan tempat Allah berdiam di tengah umat-Nya. Sion adalah kota yang penuh berkat Yahweh bagi orang yang rendah hati dan rela mencari Dia. Sion juga merupakan gambaran ideal tentang datangnya Kerajaan Allah yang penuh berkat, yaitu tibanya saat keselamatan bagi bangsa-bangsa yang diidentikkan dengan Kerajaan Sorga.

Sesungguhnya perjamuan kasih Tuhan yang berlangsung di Yerusalem surgawi, merupakan saat keselamatan definitif bagi setiap orang. Keselamatan itu sungguh niscaya, absolut, urgen, kulminan. Undangan Tuhan selalu merupakan panggilan yang perlu ditanggapi serius, tanpa penundaan atau permohonan maaf untuk ketidakhadiran. Sebab, justru di Sion akan terjadi pembebasan dari segala bentuk perkabungan dan dukacita. Segala bangsa akan hidup dalam kesatuan sempurna dengan Allah.

Apa reaksi dan sikap para undangan? Mereka yang diprioritaskan dalam perjamuan itu tidak mengindahkan undangan. Ada yang pergi ke ladangnya. Ada yang pergi mengurus usahanya. Bahkan, ada yang menangkap hamba-hamba itu dan membunuhnya. Inilah gambaran tentang penolakan radikal yang sangat jahat dan penuh kekerasan terhadap tawaran kebaikan Allah. Para undangan yang diprioritaskan menolak secara radikal karena sibuk dengan urusan dan kepentingan mereka.

Siapakah para undangan pertama ini? Mereka adalah para pendengar ajaranYesus. AjaranYesus yang menawarkan keselamatan berdasarkan kasih dan kebaikan Allah didengar dengan perasaan terganggu, sakit hati, tidak nyaman karena ditantang untuk meninggalkan kedangkalan hidup akibat egoisme dalam sikap beragama yang salah. Mereka mengklaim Yahwe sebagai Allah mereka, tetapi kasih Allah dalam diri Yesus Kristus mereka tolak dan mereka salibkan secara keji di bukit Golgota. Secara radikal, mereka menolak kasih Allah, sehingga undangan beralih kepada orang lain.

Undangan yang menyusul berasal dari kalangan para pendosa dan pemungut cukai. Mereka menanggapi undangan itu dengan antusias. Mereka masuk ruang pesta, menikmati kebersamaan dengan Tuan Pesta, ikut bergembira dan bersukacita. Tetapi di tengah kegembiraan itu ada drama tentang tamu yang tidak berpakaian pesta.

Pakaian pesta adalah tanda kepantasan yang patut dikenakan setiap undanganTuhan. Ternyata ada juga murid palsu di kalangan para murid Tuhan. Mereka pandai berseru: “Tuhan, Tuhan” tetapi tidak melaksanakan kehendak Bapa. Di kalangan jemaat perdana, ada juga orang yang tidak berpakaian pesta. Mereka berani bernubuat, berani mengusir setan, atau melakukan banyak mukjizat, tetapi hanya dengan memanipulasi kekuatan Allah. Inilah para manipulator yang gemar menyebut nama Tuhan untuk memukau orang lain (bdk. Kis 19, 9-17).

Perumpamaan ini bisa cocok bagi kita di dunia modern ini, khususnya dalam menggunakan kebebasan kita untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat. Seringkali kita mengalami kesulitan dalam membangun gambaran tentang Allah yang benar, lalu memproyeksikan kelemahan kita dengan mempersalahkan Allah. Allah dicap gemar mengekang kebebasan manusia.

Apapun tantangannya, undangan kasih Allah terus-menerus disebarkan kepada setiap orang di persimpangan jalan kehidupan. Perjamuan Tuhan selalu siap. Datanglah ke Perjamuan Kasih itu, tetapi ingat, dengan pakaian pesta!

Continue Reading | komentar

JAKARTA

KATOLIK

KRISTEN

SINGLE

DUDA

FLORES

JAWA

BATAK

PNS

 
Support : . | . | . | . | . | . | .
Copyright © 2011. KJK - All Rights Reserved
.. Inspired KJK
. .