Home » » Ziarah Garis dan Warna: Mengenang Romo Mudji Sutrisno SJ melalui Karya Sketsanya

Ziarah Garis dan Warna: Mengenang Romo Mudji Sutrisno SJ melalui Karya Sketsanya

KEPERGIAN Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ pada 28 Desember 2025 meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang mendalam, tidak hanya melalui pemikiran filsafatnya, tetapi juga melalui goresan tangannya. Bagi Romo Mudji, seni bukanlah sekadar estetika visual, melainkan sebuah "buku harian spiritual" dan bentuk ziarah batin untuk menjumpai Sang Pencipta.

"Dari Gereja ke Gereja": Jejak Yubileum 2025

Hanya beberapa bulan sebelum kepulangannya, tepatnya pada 16 hingga 25 September 2025, Romo Mudji sempat menyelenggarakan pameran tunggal bertajuk “Dari Gereja ke Gereja” di Balai Budaya, Jakarta. Pameran ini menampilkan 55 karya sketsa hitam-putih berukuran folio yang ia buat selama mengunjungi berbagai gereja di Jakarta dalam rangka Tahun Yubileum 2025.

Melalui garis-garis yang tegas namun lembut, Romo Mudji mengajak pengunjung untuk masuk ke dalam suasana doa yang senyap dan kontemplatif. Baginya, sketsa-sketsa tersebut adalah upaya menangkap esensi Perjamuan Misa dan falsafah estetika asli Indonesia. "Gereja adalah rumah doa, tempat bersyukur atas anugerah kehidupan," ungkapnya kala itu. Pameran ini menjadi salah satu persembahan terakhirnya yang menegaskan semangat Amrih Mulya Asma Dalem Gusti (Demi Lebih Besarnya Kemuliaan Nama Tuhan).


Dari Stupa ke Kapel: Simbol Toleransi dan Rahim Kehidupan

Perjalanan artistik Romo Mudji selalu sarat dengan pesan persaudaraan. Dalam pameran terdahulunya, “Dari Stupa ke Stupa”, ia menunjukkan perkembangan gaya dari garis hitam-putih menuju penggunaan warna yang ekspresif. Inspirasi ini ia dapatkan setelah menyaksikan ritual tabur tepung warna-warni di Kathmandu, Nepal, yang ia maknai sebagai simbol syukur atas kehidupan: merah untuk semangat, hijau untuk merawat hidup, dan kuning untuk kejayaan.

Yang paling menyentuh dari pameran tersebut adalah keberaniannya menjajarkan stupa, kapel gereja, dan kubah masjid dalam satu kanvas. Romo Mudji menjelaskan bahwa secara etimologis, ketiganya memiliki arti yang sama, yakni "rahim" atau garba ibu. Melalui seni, ia menyampaikan pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan seharusnya menyatu dalam kedamaian, sebagaimana arsitektur suci yang saling menjalin dalam lintasan sejarah manusia.

Seni sebagai Pengasahan Bakat dan Syukur

Sebagai seorang Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara, Romo Mudji tetap membumi melalui sketsanya. Ia percaya bahwa mengasah bakat seni adalah jalan untuk bersyukur kepada Tuhan. Dalam karya-karyanya yang paling abstrak dan sublim, ia sering menyisakan banyak ruang kosong untuk membiarkan "kesunyian berbicara."

Bagi Romo Mudji, di hadapan Tuhan, manusia adalah nobody. Segala atribut duniawi dilepaskan, dan hanya melalui rahmat-Nya manusia menjadi bermakna. Kini, sang "Pemikir yang Seniman" telah menyelesaikan ziarah batinnya di dunia. Karya-karyanya akan terus menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menemukan keheningan di tengah kebisingan dunia dan melihat kehadiran Ilahi dalam setiap sudut ruang suci.

Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : . | . | . | . | . | . | .
Copyright © 2011. KJK - All Rights Reserved
.. Inspired KJK
. .