Tampilkan postingan dengan label Berita Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Katolik. Tampilkan semua postingan

Kontroversi Keterlibatan Romo Mudji Sutrisno dalam TP2GP 2025 yang Menyetujui Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Senin, 29 Desember 2025


RENCANA penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2025 memicu diskusi hangat seiring dengan masuknya nama Presiden ke-2 RI, Soeharto, dalam daftar usulan. Proses pengkajian ini melibatkan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang beranggotakan berbagai pakar, termasuk Prof. Dr. F.X. Mudji Sutrisno SJ (Romo Mudji). 

Kehadiran Romo Mudji dalam tim ini menarik perhatian publik, mengingat rekam jejaknya sebagai intelektual dan budayawan yang dikenal sangat vokal mendukung gerakan Reformasi 1998 serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Keterlibatannya dalam tim yang memproses usulan ini dipandang bukan sebagai bentuk "kompromi" politik, melainkan sebagai upaya untuk memastikan bahwa kajian dilakukan secara objektif, mendalam, dan mempertimbangkan aspek etika budaya yang luas. 

Sebagai sosok yang memahami luka sejarah sekaligus pentingnya rekonsiliasi bangsa, mungkin posisi Romo Mudji dalam TP2GP berfungsi untuk memberikan perspektif kritis agar keputusan yang diambil tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mempertimbangkan keadilan historis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa peluang Soeharto kini kian terbuka setelah namanya dicabut dari Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Secara normatif, Soeharto dinilai memenuhi syarat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 berkat prestasi pembangunan yang pernah dicapainya. 

Namun, bagi tokoh seperti Romo Mudji dan para penggerak reformasi lainnya, proses ini tentu menjadi ujian berat dalam menyeimbangkan antara penghargaan terhadap jasa pembangunan dengan pertanggungjawaban atas catatan kelam Orde Baru. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa hasil sidang TP2GP yang melibatkan para akademisi ini akan menjadi bahan pertimbangan utama bagi Presiden Prabowo Subianto sebelum mengambil keputusan final menjelang 10 November 2025.

Di sisi lain, arus penolakan tetap mengalir deras dari PDIP dan para aktivis hukum. Guntur Romli dari PDIP secara tegas menyebut pemberian gelar ini sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat yang menggulingkan rezim otoriter pada 1998. Pakar hukum Bivitri Susanti juga mengingatkan bahwa mengabaikan trauma kolektif masyarakat dan persoalan hukum yang belum tuntas—seperti kasus KKN dan pelanggaran HAM—dapat menihilkan makna sejati dari gelar "Pahlawan Nasional". 

Kontroversi ini menempatkan tim pengkaji, termasuk Romo Mudji, dalam dilema besar antara memilih kacamata rekonsiliasi atau menjaga integritas nilai-nilai Reformasi yang belum tuntas. Sebagai sosok yang menjunjung tinggi dialog, keterlibatan beliau kemungkinan besar merupakan upaya untuk mendudukkan sejarah secara objektif dan berkeadilan. 

Sayangnya, belum banyak terungkap ke publik mengenai argumen pribadi atau pergulatan batin beliau terkait proses ini, dan kini sang budayawan telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan teka-teki intelektual sekaligus warisan bagi bangsa untuk melanjutkan tugas berat dalam membedah sejarah Indonesia dengan kebijaksanaan dan kejernihan hati.



Continue Reading | komentar

Romo Mudji Sutrisno, SJ: Sang Begawan Filsafat, Pencari Kebenaran di Tengah "Silat Lidah" Zaman

INDONESIA kehilangan salah satu lentera intelektual dan spiritual terbaiknya. Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, begawan filsafat yang juga dikenal sebagai imam Jesuit, budayawan, dan seniman, berpulang ke hadirat Sang Pencipta pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta. Kepergian sosok kelahiran Surakarta, 12 Agustus 1954 ini meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademisi, pegiat kebudayaan, dan siapa pun yang merindukan refleksi jernih di tengah karut-marutnya persoalan bangsa.

Intelektualitas yang Berakar pada Kebenaran

Bagi Romo Mudji, filsafat bukanlah sekadar ornamen akademis atau kemahiran "bersilat lidah". Menanggapi fenomena munculnya kaum "sofis modern" yang lihai beragitasi namun mengabaikan kebenaran, Romo Mudji selalu menekankan bahwa filsafat adalah cinta pada kebenaran yang mewujud dalam korespondensi antara kata dan perbuatan.

Ia sering mengkritik "pembusukan" filsafat di Indonesia, di mana pemikiran sering kali dimanipulasi menjadi ideologi demi kepentingan kekuasaan. Baginya, filsafat sejati harus mampu menguak kedok kepentingan pribadi dan kembali pada fungsinya untuk mewartakan bonum commune atau kesejahteraan bersama. Melalui "teori kritik", ia mendidik mahasiswanya dan masyarakat luas untuk cerdas membaca manipulasi yang membodohi rakyat atas nama kebenaran palsu.

Dedikasi Tanpa Henti: Dari KPU Kembali ke Kampus

Kiprah Romo Mudji dalam dunia tulis-menulis dimulai sejak tahun 1983. Sejak saat itu, ia secara rutin melahirkan karya-karya monumental yang menjembatani filsafat, estetika, dan kritik sosial. Pendidikan doktornya di Universitas Gregoriana, Italia, tidak membuatnya menjadi intelektual menara gading. Ia adalah sosok yang piawai menyederhanakan analogi rumit mengenai persoalan bangsa agar mudah dicerna oleh masyarakat awam.

Integritasnya teruji ketika ia menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2007. Di tengah posisi yang banyak diincar orang, Romo Mudji memilih untuk melepaskan jabatan tersebut demi kembali ke dunia pendidikan dan kegiatan sosial. Ia merasa "panggilan sejatinya" adalah mengajar, menulis, dan berdialog langsung dengan mahasiswa serta masyarakat mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Warisan Pemikiran dalam Kata dan Rupa

Sepanjang hidupnya, Romo Mudji Sutrisno, SJ telah meninggalkan warisan pemikiran yang sangat kaya melalui puluhan buku yang menjadi rujukan penting di Indonesia, baik dalam bentuk kata maupun rupa. Dalam bidang filsafat dan estetika, ia melahirkan karya-karya kunci seperti Estetika: Filsafat dan Keindahan (1993), Teks-teks Kunci Estetika (2005), serta Ranah-Ranah Estetika (2011). Kepeduliannya yang mendalam terhadap nasib bangsa juga tertuang dalam buku-buku bertema kebudayaan seperti Driyarkara: Filsuf yang Mengubah Indonesia (2006), Krisis Peradaban (2013), dan Esai-Esai Untuk Negeri (2015). Tidak hanya itu, sisi spiritualitas dan sastranya terpancar kuat lewat karya seperti Zen dan Fransiskus (1983), Ziarah Anggur (2004), hingga Sunyi Yang Berbisik (2020). Sebagai dosen filsafat dan sosiologi, interaksinya yang hangat menjadikannya figur bapak bagi para mahasiswa, di mana ia tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan teladan nyata bagaimana iman Katolik dan spirit Jesuit dapat berdialog secara terbuka dengan budaya Nusantara serta nilai-nilai pluralisme.

Selamat Jalan, Sang Guru

Romo Mudji telah menyelesaikan tugasnya sebagai "penjaga gerbang nalar" di Indonesia. Ia meninggalkan kita dengan sebuah pesan abadi bahwa kebenaran harus terus diwartakan sebagai kabar baik tentang kehidupan, bukan sebagai alat kekuasaan. Kini, sang imam yang juga penyair dan pelukis ini telah beristirahat dalam damai, meninggalkan jejak langkah peradaban yang akan terus kita baca dalam barisan buku dan sketsanya.

Requiescat in Pace, Romo Mudji Sutrisno, SJ (1954 - 2025).

Continue Reading | komentar

Ziarah Garis dan Warna: Mengenang Romo Mudji Sutrisno SJ melalui Karya Sketsanya

Minggu, 28 Desember 2025

KEPERGIAN Romo Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ pada 28 Desember 2025 meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang mendalam, tidak hanya melalui pemikiran filsafatnya, tetapi juga melalui goresan tangannya. Bagi Romo Mudji, seni bukanlah sekadar estetika visual, melainkan sebuah "buku harian spiritual" dan bentuk ziarah batin untuk menjumpai Sang Pencipta.

"Dari Gereja ke Gereja": Jejak Yubileum 2025

Hanya beberapa bulan sebelum kepulangannya, tepatnya pada 16 hingga 25 September 2025, Romo Mudji sempat menyelenggarakan pameran tunggal bertajuk “Dari Gereja ke Gereja” di Balai Budaya, Jakarta. Pameran ini menampilkan 55 karya sketsa hitam-putih berukuran folio yang ia buat selama mengunjungi berbagai gereja di Jakarta dalam rangka Tahun Yubileum 2025.

Melalui garis-garis yang tegas namun lembut, Romo Mudji mengajak pengunjung untuk masuk ke dalam suasana doa yang senyap dan kontemplatif. Baginya, sketsa-sketsa tersebut adalah upaya menangkap esensi Perjamuan Misa dan falsafah estetika asli Indonesia. "Gereja adalah rumah doa, tempat bersyukur atas anugerah kehidupan," ungkapnya kala itu. Pameran ini menjadi salah satu persembahan terakhirnya yang menegaskan semangat Amrih Mulya Asma Dalem Gusti (Demi Lebih Besarnya Kemuliaan Nama Tuhan).


Dari Stupa ke Kapel: Simbol Toleransi dan Rahim Kehidupan

Perjalanan artistik Romo Mudji selalu sarat dengan pesan persaudaraan. Dalam pameran terdahulunya, “Dari Stupa ke Stupa”, ia menunjukkan perkembangan gaya dari garis hitam-putih menuju penggunaan warna yang ekspresif. Inspirasi ini ia dapatkan setelah menyaksikan ritual tabur tepung warna-warni di Kathmandu, Nepal, yang ia maknai sebagai simbol syukur atas kehidupan: merah untuk semangat, hijau untuk merawat hidup, dan kuning untuk kejayaan.

Yang paling menyentuh dari pameran tersebut adalah keberaniannya menjajarkan stupa, kapel gereja, dan kubah masjid dalam satu kanvas. Romo Mudji menjelaskan bahwa secara etimologis, ketiganya memiliki arti yang sama, yakni "rahim" atau garba ibu. Melalui seni, ia menyampaikan pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan seharusnya menyatu dalam kedamaian, sebagaimana arsitektur suci yang saling menjalin dalam lintasan sejarah manusia.

Seni sebagai Pengasahan Bakat dan Syukur

Sebagai seorang Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara, Romo Mudji tetap membumi melalui sketsanya. Ia percaya bahwa mengasah bakat seni adalah jalan untuk bersyukur kepada Tuhan. Dalam karya-karyanya yang paling abstrak dan sublim, ia sering menyisakan banyak ruang kosong untuk membiarkan "kesunyian berbicara."

Bagi Romo Mudji, di hadapan Tuhan, manusia adalah nobody. Segala atribut duniawi dilepaskan, dan hanya melalui rahmat-Nya manusia menjadi bermakna. Kini, sang "Pemikir yang Seniman" telah menyelesaikan ziarah batinnya di dunia. Karya-karyanya akan terus menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menemukan keheningan di tengah kebisingan dunia dan melihat kehadiran Ilahi dalam setiap sudut ruang suci.

Continue Reading | komentar

KABAR DUKA: Romo Mudji Sutrisno SJ, Budayawan dan Tokoh Filsafat, Berpulang ke Rumah Bapa

JAKARTA – Dunia filsafat, seni, dan budaya Indonesia berduka. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, atau yang akrab disapa Romo Mudji, meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Desember 2025. Tokoh bangsa yang dikenal atas kesederhanaan dan kedalaman pemikirannya ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta, dalam usia 71 tahun karena sakit.

Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh rekan sejawatnya di Serikat Jesus, Rm. Setyo Wibowo SJ. Romo Mudji dikenal luas bukan hanya sebagai rohaniwan, tetapi juga sebagai Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara dan Universitas Indonesia.

Dunia intelektual dan religius Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pastor Franciscus Xaverius Mudji Sutrisno, SJ, atau yang lebih dikenal sebagai Romo Mudji, dikabarkan meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Desember 2025, pukul 20.43 WIB di RS Carolus, Jakarta. Romo Mudji wafat dalam usia 71 tahun setelah sebelumnya menjalani perawatan karena sakit. Kabar duka ini dikonfirmasi oleh rekan sejawatnya, Rm. Setyo Wibowo SJ, yang mengajak segenap umat dan kolega untuk mendoakan almarhum agar beristirahat dalam damai Tuhan.

Sosok kelahiran Solo, 12 Agustus 1954 ini merupakan figur yang sangat dihormati sebagai rohaniwan, ahli filsafat, sekaligus pengamat sosial-budaya. Sebagai seorang akademisi, ia mengabdikan diri menjadi Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara dan mengajar di Universitas Indonesia. Jejak kariernya juga sempat menyentuh ranah politik nasional ketika ia menjabat sebagai Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2001-2003, meski akhirnya ia memilih kembali ke dunia pendidikan. Meraih gelar doktor dari Universitas Gregoriana, Italia, Romo Mudji dikenal lewat tulisan-tulisannya yang tajam namun menyejukkan mengenai persoalan bangsa.

Romo Mudji juga dikenal sebagai sosok yang sangat bersahaja dan dekat dengan seni. Di balik gelar akademisnya yang tinggi, ia tidak pernah lupa pada akarnya, bahkan sering mengenang pengalamannya mengajar menggambar bagi anak-anak TK dan SD. Kesederhanaan hidupnya sangat membekas bagi mereka yang mengenalnya, baik saat beliau menjalankan misi di luar negeri seperti di Rusia, maupun dalam kesehariannya di lingkungan kampus. Bagi banyak orang, ia bukan sekadar pemikir, melainkan seorang "pemikir yang seniman" yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat dengan kerendahan hati.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, jenazah akan disemayamkan di Kolese Kanisius (CC), Jakarta Pusat. Misa Requiem dijadwalkan berlangsung pada hari Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2025, setiap pukul 19.00 WIB di Kapel Kolese Kanisius. Selanjutnya, jenazah akan diberangkatkan menuju Girisonta pada Selasa malam pukul 21.00 WIB. Rangkaian prosesi akan ditutup dengan Misa Ekaristi pada Rabu, 31 Desember 2025, pukul 10.00 WIB di Gereja Paroki setempat, sebelum akhirnya dimakamkan di Taman Maria Ratu Damai, Girisonta.

Continue Reading | komentar

Misa Natal Pertama Paus Leo XIV: Seruan Damai dari Vatikan untuk Warga Gaza

Sabtu, 27 Desember 2025


DALAM Misa Natal perdana yang dipimpinnya di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Kamis, 25 Desember 2025, Paus Leo XIV menyampaikan pesan perdamaian yang sangat mendalam dan berfokus pada isu kemanusiaan global. Di hadapan ribuan umat yang datang dari berbagai penjuru dunia, beliau menggunakan momen sakral peringatan kelahiran Yesus Kristus untuk mengingatkan kembali akan kerapuhan martabat manusia yang saat ini tercermin dalam nasib para pengungsi di seluruh dunia. Secara khusus, Paus menyoroti tragedi yang menimpa warga Gaza yang kini terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat di bawah ancaman cuaca ekstrem, terpapar hujan dan udara dingin yang menusuk akibat konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.

Dalam khotbahnya yang penuh haru, pemimpin umat Katolik dunia ini menegaskan bahwa kelahiran Yesus adalah simbol solidaritas Allah bagi mereka yang menderita akibat kekerasan dan penindasan. Beliau mengajak seluruh umat untuk tidak bersikap apatis atau menutup mata terhadap penderitaan sesama yang seringkali menjadi korban dari ambisi serta egoisme politik para pemimpin negara. Menurut Paus, perdamaian sejati mustahil tercapai selama negara-negara yang bertikai masih terjebak dalam ego sektoral mereka masing-masing. Ia menekankan pentingnya mengakhiri praktik "monolog" dan mulai beralih pada dialog yang tulus serta kemampuan untuk saling mendengarkan demi menghargai nilai-nilai kemanusiaan universal.

Seruan ini menjadi sebuah penanda kuat akan komitmen kepemimpinan baru Paus Leo XIV dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan di panggung global. Beliau mendesak para pembuat kebijakan internasional untuk segera mengambil langkah nyata dan konstruktif guna menyelesaikan krisis tersebut melalui jalur diplomasi. Dengan mengedepankan pesan damai dari pusat Takhta Suci, Paus berharap agar nurani para pemimpin dunia dapat terketuk untuk lebih memprioritaskan keselamatan nyawa manusia di atas kepentingan kekuasaan, sehingga penderitaan warga di wilayah konflik seperti Gaza dapat segera diakhiri.
Continue Reading | komentar

JAKARTA

KATOLIK

KRISTEN

SINGLE

DUDA

FLORES

JAWA

BATAK

PNS

 
Support : . | . | . | . | . | . | .
Copyright © 2011. KJK - All Rights Reserved
.. Inspired KJK
. .